Shadaqah Untuk Sahabat, Cara Lain Pendidikan Karakter

Posted by khadimat sekolah Kamis, Februari 16, 2012 0 komentar
Ada fenomena menarik mengenai demoralisasi atau penurunan akhlak di kalangan anak didik dan remaja kita saat ini, dan ini tampaknya akan semakin meluas pengaruhnya. Kasus contekan massal yang menimpa SDN Gadel II Surabaya, Jawa Timur, misalnya. Belum lagi masalah demoralisasi kasus lain, seperti perilaku seksual dikalangan pelajar yang hampir setiap hari terpublikasi di media.

Fenomena-fenomena janggal ini merupakan bagian dari demoralisasi di kalangan pelajar dan generasi muda yang apabila dibiarkan secara terus menerus dan tidak ditanggulangi sejak usia dini akan sangat membahayakan bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan beragama.

Ada sejumlah indikator yang digunakan untuk mengukur demoralisasi di kalangan anak didik diantaranya, yaitu: (1) meningkatnya kekerasan di kalangan anak didik; (2) ketidakjujuran yang membudi daya; (3) semakin tingginya rasa tidak hormat kepada orangtua dan guru; (4) pengaruh teman dekat yang sangat dominan terhadap lahirnya tindakan kekerasan; (5) meningkatnya kecurigaan dan kebencian; (6) penggunaan bahasa yang buruk dan cendrung kasar, tidak senonoh dan melecehkan; (7) penurunan etos belajar; (8) menurunnya rasa tanggungjawab individu dan komitmen kebersamaan; (9) meningginya perilaku merusak diri; dan (10) semakin kaburnya pedoman moral.

Pendidikan karakter merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat dan keluarga. Terkait hal tersebut, tulisan ini akan menggambarkan alternatif aktifitas yang ditawarkan PKPU dalam rangka mendukung program Pendidikan Karakter.

Secara konsep Pendidikan Karakter, adalah “Effective character education is not adding a program or set of programs to a school. Rather it is a transformation of the culture and life of the school. The best way to implement character education is through a holistic approach that integrates character development into every aspect of school life”, yang berarti: pendidikan karakter yang efektif bukan sekedar penambahan suatu program atau sejumlah program sekolah. Namun pendidikan karakter merupakan transformasi budaya dan kehidupan di lingkungan sekolah. Cara terbaik untuk mengimplementasikan pendidikan karakter adalah melalui pendekatan menyeluruh yang mengaitkan karakter pembangunan ke dalam semua aspek kehidupan di sekolah.

Penddikan Karakter sangat menentukan bagi kualifikasi orang dan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan atau kegagalan masa depan. Daniel Goleman (1995) mengungkapkan pentingnya kemampuan untuk menguasai kecerdasan emosi (Emotional Intelligence) sebagai penentu keberhasilan akademik anak, melebihi kemampuan intelektual (Intellectual Quotient=IQ) yang selama ini diakui berhubungan nyata dengan prestasi akademik siswa. Bahkan Goleman menyatakan bahwa 80 persen kesuksesan seseorang ditentukan oleh kecerdasan emosinya (Emotional Quotient=EQ), sementara hanya 20 persen ditentukan oleh IQ-nya.

Pendidikan karakter ini idelnya dilakukan melalui 4 H (Heart, Head, Hand dan Health). Pertama, pendidikan karakter dengan heart (hati) artinya orang tua dalam mendidik anak-anaknya harus didasari dengan: (1) kasih sayang; dan (2) keimanan. Anak yang dididik dengan kasih sayang akan menumbuhkan rasa simpati dan empaty pada dirinya dan orang-orang disekitarnya. Mereka mudah tersentuh dengan kondisi eksternal masyarakat yang serba kekurangan. Demikian juga anak yang dididik dengan keimanan mereka akan memiliki kontrol diri dalam berfikir, bersikap, berbicara dan bertindak. Kontrol diri yang didasarkan pada iman akan membentuk pribadi yang jujur dan bertanggung jawab.

Kedua, pendidikan karakter dengan head (kepala/otak). Pendidikan orang tua terhadap anaknya juga harus mengembangan daya nalar dan pemikiran. Hidup selalu dihadapkan pada berbagai pilihan dan permasalahan. Ketika anak dihadapkan pada pilihan maka bagaimana memilih opsi terbaik adalah mempertimbangkan nilai lebih (positif) setiap opsi.

Ketiga, pendidikan karakter dengan hand (tangan). Tangan merupakan lambang memberi dan menerima (take and give). Pendidikan karakter dengan pendekatan yang ditawarkan oleh PKPU mengajarkan kepada anak untuk hidup saling berbagi. Satu hal terpenting dalam pendidikan adalah menuju kedewasaan dan nilai kedewasaan yang terpenting adalah kemandirian dan tanggung jawab atas segala sikap dan perilakunya. Oleh karena itu pendidikan karakter dengan mengembangkan konsep saling berbagi merupakan hal yang sangat penting.

Keempat, pendidikan karakter dengan health (sehat kondisi dan interaksi). Sehat kondisi termasuk kondisi penyediaan kebutuhan anak. Anak bisa belajar dengan baik manakala mereka memiliki daya dukung yang memadai. Ketika anak hidup dalam kekurangan, mereka cenderung merasa rendah diri (inferior) terhadap kawannya. Ketika anak terlalu dimanjakan, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak tahan uji.  Sedekah untuk sahabat mengimplementasikan 4 cara yang disebutkan diatas.

Pendidikan di sekolah menekankan pentingya tiga komponen karakter yang baik (components of good character) yaitu; (1) pengetahuan tentang moral (moral knowing) ; (2) perasaan tentang moral (moral feeling); dan (3) perbuatan bermoral (moral action).  Tiga komponen  karakter ini diperlukan agar peserta didik mampu memahami, merasakan dan mengerjakan nilai-nilai kebajikan.

Komponen pertama pendidikan karakter adalah moral knowing. Terdapat enam hal yang menjadi tujuan dari diajarkannya moral knowing yaitu: 1) moral awereness, 2) knowing moral values, 3) persperctive taking, 4) moral reasoning, 5) decision making dan 6) self-knowledge.  

Komponen kedua pendidikan karakter adalah moral feeling. Terdapat 6 hal yang merupakan aspek dari emosi yang harus mampu dirasakan oleh seseorang untuk menjadi manusia berkarakter yakni : 1) conscience, 2) self-esteem, 3) empathy, 4) loving the good, 5) self-control dan 6) humility.

Komponen ketiga pendidikan karakter adalah moral action. Perbuatan/tindakan moral ini merupakan hasil (outcome) dari dua komponen karakter lainnya. Untuk memahami apa yang mendorong seseorang dalam perbuatan yang baik (act morally) maka harus dilihat tiga aspek lain dari karakter yaitu : 1) kompetensi (competence), 2) keinginan (will) dan 3) kebiasaan (habit).

Semua rangkaian aspek-aspek komponen pendidikan yang disebutkan di atas teraktualisasikan dalam rangkaian tawaran LAZ TPU AL MUMTAZ kepada sekolah dan anak didik dengan memanfaatkan tabung peduli sebagai media pembelajaran pendidikan karakter.

Mengingat pendidikan karakter adalah sesuatu yang bersifat abstrak maka nilai-nilai moral pada setiap aktifitas kebaikan harus diajarkan pada anak didik. Oleh sebab setiap rancangan aktifitas pendidikan yang dilakukan anak didik harus mengarah kepada pendidikan karakter.

Ratna Megawangi, telah merumuskan karakter yang harus diajarkan pada setiap anak didik dengan pendekatan  9 pilar yaitu: (1)  Cinta Tuhan dan kebenaran (love Allah, trust, reverence, loyalty); (2)  Tanggungjawab, kedisiplinan, dan kemandirian (responsibility, excellence, self reliance, discipline, orderliness); (3)  Amanah (trustworthiness, reliability, honesty); (4)  Hormat dan santun (respect, courtessy, obedience) ; (5)  Kasih sayang, kepedulian, dan kerjasama (love, compassion, caring, empathy, generousity, moderation, cooperation) ; (6)  Percaya diri, kreatif, dan pantang menyerah (confidence, assertiveness, creativity, resourcefulness, courage, determination and enthusiasm); (7)  Keadilan dan kepemimpinan (justice, fairness, mercy, leadership); (8)  Baik dan rendah hati (kindness, friendliness, humility, modesty); (9)  Toleransi dan cinta damai (tolerance, flexibility, peacefulness, unity)

Tawaran LAZ TPU AL MUMTAZ SAMBAS melalui slogan, “Sedekah untuk Sahabat”, dengan memberikan 1 tabung/celengan kepada setiap anak didik ini dalam rangka mengimplementasikan pendidikan karakter. Aktifitas yang sederhana namun penuh makna, setiap anak yang mendapatkan tabung peduli diminta untuk menyisihkan sedikit uang jajan untuk berbagi bersama. Dengan adanya Tabung Peduli, selain banyak sekolah yang dibedah, puluhan anak mendapatkan beasiswa, dan ribuan anak dapat mengakses bacaan buku yang baik dan bermutu, tetapi juga mengimplementasikan pendidikan karakter bagi anak yang melakukan.

Dorothy Law Nolte, sudah mengingatkan kita tentang hal ini melalui puisinya yang popular.

Jika Anak dibesarkan dengan Celaan, maka ia belajar Memaki
Jika Anak dibesarkan dengan Permusuhan, maka ia belajar Berkelahi
Jika Anak dibesarkan dengan Ketakutan, maka ia belajar Gelisah
Jika Anak dibesarkan dengan Rasa Iba, maka ia belajar Menyesali Diri
Jika Anak dibesarkan dengan Olok-Olok, maka ia belajar Rendah Diri
Jika Anak dibesarkan dengan Iri Hati, maka ia belajar Kedengkian

Jika Anak dibesarkan dengan Dorongan, maka ia belajar Percaya Diri
Jika Anak dibesarkan dengan Toleransi, maka ia belajar Menahan Diri
Jika Anak dibesarkan dengan Pujian, maka ia belajar Menghargai
Jika Anak dibesarkan dengan Penerimaan, maka ia belajar Mencintai
Jika Anak dibesarkan dengan Dukungan, maka ia belajar Menyenangi Diri
Jika Anak dibesarkan dengan Pengakuan, maka ia belajar Mengenali Tujuan
Jika Anak dibesarkan dengan Berbagi, maka ia belajar Kedermawanan

Jika Anak dibesarkan dengan Rasa Kejujuran dan Keterbukaan, maka ia belajar Kebenaran dan
Keadilan
Jika Anak dibesarkan dengan Rasa Aman, maka ia belajar Menaruh Kepercayaan
Jika Anak dibesarkan dengan Persahabatan, maka ia belajar Menemukan Cinta dalam Hidup
Jika Anak dibesarkan dengan Ketentraman, maka ia belajar Berdamai dengan Pikiran
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Shadaqah Untuk Sahabat, Cara Lain Pendidikan Karakter
Ditulis oleh khadimat sekolah
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://laztpualmumtazsambas.blogspot.com/2012/02/shadaqah-untuk-sahabat-cara-lain.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Poskan Komentar

Tutorial SEO dan Blog support Online Shop Tas Wanita - Original design by Bamz | Copyright of LAZ TPU AL MUMTAZ.