Ibadah Mulia di Perbatasan

Posted by khadimat sekolah Selasa, Januari 24, 2012 0 komentar
KALBAR – Tidak pernah terpikir sebelumnya oleh Hendrolisa untuk menjadi guru model di Sentabeng, pedalaman Kalimantan Barat yang hanya berjarak sekitar 5 kilometer dari perbatasan Malaysia. Awalnya, remaja jebolan Sekolah Guru Ekselensia Indonesia (SGEI) Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa ini merasa tidak betah mengajar di daerah yang serba terbatas.
“Saya sempat terkejut dan menimbang-nimbang saat ditugaskan ke pedalaman Kalimantan,” ungkap Hendro ketika ditemui beberapa waktu lalu.
Maklum, daerah tersebut belum masuk listrik, sinyal telepon seluler juga terbatas di area tertentu saja, sehingga menyulitkan Hendro untuk berkomunikasi ataupun mencari informasi dengan internet.
“Kalau mau telepon saya harus jalan dulu sejauh 3 kilometer,  sedangkan jika ingin men-charge HP atau Laptop itu menumpang ke masyarakat dan harus ke kota dulu yang sudah ada listriknya,” jelas Hendro.
Menurut penuturan Hendro, letak SD Sentabeng jika ditempuh dengan jalan darat sekitar 90 menit dari jalan raya Jagoi Babang, Kalimantan Barat, yang merupakan perbatasan Serawak Timur, Malaysia. Tetapi bila musim hujan seperti saat ini akan memakan waktu lebih lama sekitar 2-3 jam, karena jalan berlumpur.
Kendati demikian, remaja asal Riau itu tidak patah semangat untuk meneruskan cita-cita mulianya mengajar calon penerus bangsa di daerah perbatasan. Menurut Hendro, keterbatasan itu tidak membuat manusia harus kehilagan semangat untuk selalu berinovasi. Baginya, mengajar di perbatasan merupakan pekerjaan yang luhur dan mulia, yang tak bisa diukur dengan rupiah.
Dengan menyandang gelar sarjana dari universitas ternama, Hendro tidak merasa sia-sia dengan harus mengajar di daerah terpencil. “Ini merupakan pembelajaran dan pengalaman, masalah honor saya tidak memikirkan itu dari awal. Mengajar di hutan menjadi bentuk lain dari pengabdian pada negara, saya telah menikmatinya,” kata Hendro.
Di Sentabeng, Hendro mengajar bukan hanya satu kelas, melainkan tiga kelas dalam waktu yang berbarengan. Jumlah siswa di SD Sentabeng juga tidak banyak, dari enam kelas semua berjumlah 60 anak. Dengan metode mengajar yang telah didapatkan dari LPI, Hendro mampu melakukan itu.
“Metode mengajar yang saya terapkan bagaimana supaya siswa aktif, dalam satu ruangan saya mengajar merangkap tiga kelas. Masing-masing kelas duduknya membentuk lingakaran, ini sangat efeektif, “ imbuh Hendro yang berniat mencari beasiswa untuk melanjutkan S2, usai mengajar di Sentabeng ini.
Hendro ditugaskan untuk mengajar di Sentabeng selama setahun dan kini masuk bulan ke-6. Banyak pelajaran yang diambil Hendro saat jauh dari kemewahan dan kemegahan hidup di kota. “Kebiasaan berawal tergantung dari kita, saya telah terbiasa tidak menonton televisi dan mengakses internet dan itu bukan suatu kendala. Semua ini bernilai ibadah, itulah tujuan utamanya.
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Ibadah Mulia di Perbatasan
Ditulis oleh khadimat sekolah
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://laztpualmumtazsambas.blogspot.com/2012/01/ibadah-mulia-di-perbatasan.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Poskan Komentar

Tutorial SEO dan Blog support Online Shop Tas Wanita - Original design by Bamz | Copyright of LAZ TPU AL MUMTAZ.