Mengurai Hikmah Qurban

Posted by khadimat sekolah Kamis, Januari 19, 2012 0 komentar
Mengurai Hikmah Kurban
TABUNGAN HEWAN QURBAN
Menyembelih hewan kurban memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam syariat Islam. Jika menelisik seluk-beluk di balik ibadah kurban, banyak hikmah berharga yang akan kita jumpai. Dan hanya Allah 'Azza Wa Jalla yang tahu semua hikmah di balik ibadah tersebut secara rinci.

Sangat menarik apa yang disampaikan oleh Ibnul Qoyyim mengenai kurban. Beliau berkata: "Ada pun menyembelih kurban merupakan satu bentuk mendekatkan diri kepada Allah Sang Pencipta, yang mempunyai kedudukan seperti halnya menebus jiwa yang pasti akan binasa. Sebagai satu penebusan jiwa, pengganti dan bentuk mendekatkan diri kepada Allah, serta sebagai langkah di dalam mensuritauladani pemimpin orang-orang yang murni dalam bertauhid, juga untuk menghidupkan sunnahnya.Yakni ketika Allah menebus putra Ibrahim as, yakni Ismail as, dan menggantikannya dengan kurban. Maka Allah menjadikan hal itu sebagai momen yang terus berlangsung di kalangan keturunannya." (MulakhkhoshulFiqhi, MifahDarisSa'adah).

Kurban, Wujud Ketakwaan kepada Allah
Selain memiliki nilai ibadah, beberapa aspek lain juga termuat dalam ibadah kurban. Kurban mengajarkan untuk saling peduli, menanamkan ruh persaudaraan, dan kebersamaan. Tentunya selain mengajarkan supaya kita mau memberikan yang terbaik untuk Allah. Karena kurban merupakan pengorbanan harta untuk Allah, maka yang harus dikedepankan adalah kurban tersebut berangkat dari ketakwaan kita kepada-Nya. Tak sekadar nilai dari hewan kurbannya.

Seperti firman-Nya yang artinya: "Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya." (QS. al-Hajj [22]: 37).

Maksud ayat tersebut adalah bahwa menyembelih hewan kurban tak sekadar penyembelihannya. Karena bukan daging dan darah yang dapat menuai ridha Allah, karena Allah Maha Kaya lagi Terpuji. Namun yang akan diangkat kepada-Nya adalah keikhlasan dan niatnya dalam berkurban. Ketakwaanlah yang dapat mengantarkan ridha-Nya. Ini merupakan satu motivasi untuk ikhlas dalam berkurban, agar tujuannya hanya untuk Allah semata. Bukan karena ingin berbangga, riya, sum'ah, atau hanya karena sudah menjadi tradisi. Demikian pula dalam ibadah yang lain. Sekiranya tidak dibarengi ikhlas dan takwa, maka itu hanya seperti kulit luar saja yang tanpa isi, raga yang tanpa ruh. (Tafsir al-Quran As-Sa'di).

Untuk membuktikan kadar takwa seorang hamba dan seberapa besar pengorbanannya untuk Allah, maka sangat dianjurkan berkurban dengan hewan yang gemuk dan berkualitas. Semata hanya untuk mengharap ridha Allah. Kurban merupakan di antara nikmat Allah kepada manusia, di mana Allah mensyariatkan atas seorang muslim suatu hal (yaitu kurban) yang ia bisa ikut serta bersama dengan orang-orang yang menyaksikan musim haji. Karena orang-orang yang menyaksikan musim haji ini, mereka mempunyai ritual haji dan menyembelih binatang hadyu (yaitu hewan ternak yang sengaja untuk disembelih di tanah haram (Mekah) dan dibagikan kepada fakir miskin).

Sedangkan penduduk di negeri lain, mereka mempunyai ibadah menyembelih kurban. Karena itulah kita mendapatkan karunia dan rahmat dari Allah. Allah berkenan menjadikan penduduk negeri lain selain Mekah sebagai satu hal yang serupa dengan yang didapat orang-orang yang menunaikan manasik haji. Seperti tidak mengambil rambut dan kuku pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Dikarenakan penduduk negeri lain turut serta bersama mereka yang sedang berihram di tanah suci, dengan tidak mengambil rambut dan kuku atau kulit. Dan juga karena mereka turut serta bersama yang menunaikan haji dalam bertaqarrub mendekatkan diri kepada Allah dengan menyembelih hewan kurban.

Kurban dan Ketauhidan
Kurban pun disyariatkan untuk mewujudkan berbagai hikmah berikut. Yaitu sebagai bentuk meneladani Nabi Ibrahim as. Saat Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih belahan jiwanya, Nabi Ismail, Ibrahim membenarkan dan menyambut mimpinya sebagai perintah Allah. Ia pun membaringkan anaknya di atas pelipisnya untuk ia sembelih sebagai bentuk ketundukan dan kepatuhan yang sempurna atas titah-Nya. Lalu Allah pun menyerunya dan menebusnya dengan seekor sembelihan yang besar. Ini semua bisa dihayati dalam surah ash-Shoffat ayat 102 sampai 107.

Menyembelih hewan kurban merupakan wujud menghidupkan sunnah sekaligus mengorbankan sesuatu yang telah Allah berikan kepada seseorang. Sebagai wujud syukur kepada Pemilik dan Pemberi nikmat. Dan tujuan akhir dari syukur adalah ketaatan semata dengan menunaikan perintah-Nya. Dan inilah inti dari tauhid yang di dakwahkan oleh seluruh Nabi dan Rasul. Sebagai sarana untuk memberi kelapangan kepada orang-orang pada hari raya IdulAdha.

Ketika seorang muslim menyembelih kurbannya, ia memberi kelapangan kepada diri dan keluarganya. Dan kala ia menghadiahkan sebagian dari sembelihannya kepada para sahabat dekat, tetangga, dan kerabatnya, ia telah memberi kelapangan pada mereka. Dan ketika menyedekahkan sebagian dari sembelihannya kepada fakir miskin dan yang membutuhkan, maka ia telah memberi kecukupan kepada mereka. Dengan demikian mereka tidak meminta-minta pada hari tersebut yang merupakan hari bahagia dan bersenang-senang.

Mengingat betapa agungnya hikmah yang terkandung dalam kurban ini, maka kurang etis bagi siapa pun yang ada kelapangan kemudian ia tidak berkurban. Apalagi sebagian ulama mewajibkan atas orang yang mampu. Semoga Allah senantiasa membimbing kita. Aamiin. (Denie, Kepala Cabang LAZ TPU AL MUMTAZ SAMBAS)
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Mengurai Hikmah Qurban
Ditulis oleh khadimat sekolah
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://laztpualmumtazsambas.blogspot.com/2012/01/mengurai-hikmah-qurban.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Poskan Komentar

Tutorial SEO dan Blog support Online Shop Tas Wanita - Original design by Bamz | Copyright of LAZ TPU AL MUMTAZ.